Di Balik Lensa, di Kaki Gunung Ibu
Namun, di hadapan anak-anak itu, saya menyadari bahwa fakta tidak selalu cukup untuk menjelaskan sebuah peristiwa. Kita bisa menulis berapa kali gunung meletus. Kita bisa menyebutkan jumlah warga yang terdampak, luas wilayah yang terancam, dan berapa banyak keluarga yang harus meninggalkan rumahnya. Kita bisa menyusun semuanya dalam angka dan paragraf yang rapi.
Tetapi bagaimana kita menuliskan perasaan seorang anak yang belum tahu apakah hari esok akan memberinya kesempatan bermain di tempat yang sama?
Bagaimana kita menjelaskan kecemasan seorang ibu yang harus memastikan anak-anaknya aman, sementara ia sendiri mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam tiba?
Dan bagaimana kita mengukur ketabahan masyarakat yang harus tetap hidup di tengah ancaman alam yang tak bisa mereka kendalikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu mendapatkan jawaban. Sebagian hanya bisa dibawa pulang, disimpan dalam ingatan, lalu muncul kembali ketika kita duduk sendirian dan membaca ulang catatan perjalanan.
Foto ini kemudian menjadi lebih dari sekadar dokumentasi peliputan. Ia menjadi pengingat bahwa di balik berita yang kita kirimkan kepada redaksi, ada manusia-manusia yang kehidupannya jauh lebih luas daripada peristiwa yang sedang kita laporkan.
Ada anak-anak yang ingin tumbuh besar. Ada orang tua yang ingin keluarganya selamat. Ada masyarakat yang ingin kembali ke rumah, bekerja, bersekolah, dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan.
Mereka adalah alasan mengapa berita itu perlu ditulis dengan hati-hati, mengapa penderitaan tidak boleh dijadikan tontonan, dan mengapa seorang jurnalis harus tetap menjaga kemanusiaannya di tengah tuntutan pekerjaan.
Saya pulang dari kaki Gunung Ibu dengan membawa catatan, gambar, dan cerita untuk disampaikan kepada pembaca. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut tertinggal di lokasi peliputan: senyum anak-anak itu.
Berita Terkait
Kisah dari Batas Aman Menyusuri Erupsi Gunung Ibu
Kabut tipis dan aroma belerang yang menusuk hidung menyambut pagi saya di kaki Gunung Ibu, Halmahera Barat. Sebagai seorang jurnalis,…
fenomena Suku Lingon
Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam rentang sejarah panjang tersebut, terjadi pembauran genetik antara pelaut atau buronan Eropa dengan penduduk lokal.…