Di Balik Lensa, di Kaki Gunung Ibu
Ada peristiwa yang hanya membutuhkan beberapa kalimat untuk diberitakan, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dilupakan. Erupsi Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat adalah salah satunya. Di sana, saya datang bukan sebagai seorang pahlawan, bukan pula sebagai orang yang mampu mengubah keadaan. Saya datang sebagai jurnalis, membawa kamera, mencatat peristiwa, dan berusaha menyampaikan kepada dunia bahwa ada kehidupan yang sedang berjuang di bawah bayang-bayang bencana.
Hari itu, tugas membawa saya ke tengah masyarakat yang sedang menghadapi ketidakpastian. Gunung Ibu berdiri dengan segala kuasanya. Abu vulkanik, kecemasan, dan kabar tentang aktivitas gunung menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Di tengah keadaan itu, orang-orang berusaha mempertahankan sesuatu yang paling mendasar dalam hidup mereka: keselamatan, keluarga, dan harapan untuk kembali menjalani hari seperti biasa. Namun, di antara sekian banyak hal yang saya temui, ada satu pemandangan yang diam-diam menetap di ingatan saya.
Berita Terkait
Kisah dari Batas Aman Menyusuri Erupsi Gunung Ibu
Kabut tipis dan aroma belerang yang menusuk hidung menyambut pagi saya di kaki Gunung Ibu, Halmahera Barat. Sebagai seorang jurnalis,…
fenomena Suku Lingon
Legenda Suku Lingon menjadi salah satu narasi paling memikat dari kawasan Indonesia Timur. Di balik lebatnya vegetasi hutan hujan tropis…