Kisah dari Batas Aman Menyusuri Erupsi Gunung Ibu
Kabut tipis dan aroma belerang yang menusuk hidung menyambut pagi saya di kaki Gunung Ibu, Halmahera Barat. Sebagai seorang jurnalis, berpacu dengan waktu dan dinamika alam sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, berdiri di tanah Halmahera pagi ini memberikan getaran yang berbeda di dada saya.
Kamera menggantung siap di leher, sementara buku catatan dan ponsel di genggaman tak pernah lepas dari jangkauan. Dari kejauhan, Gunung Ibu yang tampak megah tiba-tiba menggelegar halus. Tak lama kemudian, mumbul kolom abu kelabu pekat setinggi ratusan meter menerobos langit biru mencapai 300 hingga 800 meter ke udara.
Saya segera mencari posisi aman untuk mengambil gambar terbaik. Angin berembus cukup kencang, membawa material abu vulkanik melayang dan menyebar ke arah barat daya serta utara.
Perjalanan berlanjut menyusuri jalanan berbatu yang menghubungkan desa-desa di sekitar lereng. Deru mesin sepeda motor warga yang berpapasan selaras dengan dentuman halus gunung yang seakan enggan beristirahat.
Saya menuruni jalur menuju Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu dan pemukiman terdekat untuk mengumpulkan data resmi. Di dalam pos yang sibuk itu, layar-layar monitor menampilkan grafik aktivitas seismik yang naik-turun tanpa henti.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu dengan raut wajah sigap menegaskan status terkini yang harus dipatuhi semua pihak demi menghindari ancaman bahaya utama dari dalam perut bumi.
Masyarakat dan wisatawan dilarang keras mendekat dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif, serta perlu memperluas jarak aman hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah bagian utara.
“Situasinya harus dipantau intensif, karena erupsinya terjadi berulang kali dalam sehari,” ujar salah satu petugas sambil menunjukkan grafik seismograf yang terus bergetar hebat melukiskan dentut energi vulkanik.
Keluar dari ruangan pos, jari-jemari saya bergerak cepat menggoreskan catatan ringkas di atas kertas. Di pemukiman warga, pemandangan khas daerah terdampak erupsi mulai menyapa mata: hujan abu tipis slowly menyelimuti atap rumah, kendaraan, dan dedaunan pohon kelapa.
Di beranda sebuah rumah kayu, beberapa warga paruh baya berkumpul sambil berbincang tenang meski bayang-bayang awan abu menggelayut pasrah di atas kawasan mereka. Langkah kaki membawa saya mendekati mereka untuk merekam riak suara dari garis terdepan.
Saya menemui beberapa warga lokal yang tengah bersiap-siap mengenakan masker kain sederhana. Sebagai jurnalis, tugas saya bukan sekadar melaporkan data angka dan status gunung, tetapi juga memastikan keselamatan serta menyuarakan ketabahan warga melalui informasi yang benar.
Di sela-sela wawancara, saya menyempatkan diri mengingatkan mereka agar selalu mengenakan masker dan kacamata pelindung untuk menghindari risiko ISPA dan iritasi mata, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu hoaks yang kerap beredar saat bencana.
Kehidupan di kaki gunung api ini memang menyimpang dari kepanikan biasa; warga lokal telah lama bersahabat dengan karakter Gunung Ibu, namun kewaspadaan kolektif tetap terpelihara rapat di setiap sudut desa.
Mentari makin tinggi membakar terik, sementara suara dentuman halus kembali terdengar bergema dari kejauhan. Saya duduk di sebuah warung kecil tak jauh dari batas aman, membuka laptop, lalu merangkai setiap fakta dan narasi manusia yang saya kumpulkan hari ini menjadi sebuah berita utuh.
Di bawah naungan awan abu Gunung Ibu yang tak kunjung surut, berita ini akhirnya saya selesaikan menjadi saksi bisu ketangguhan masyarakat Halmahera Barat meniti hari di bawah bayang-bayang gunung api.
Berita Terkait
fenomena Suku Lingon
Legenda Suku Lingon menjadi salah satu narasi paling memikat dari kawasan Indonesia Timur. Di balik lebatnya vegetasi hutan hujan tropis…
Di Balik Lensa, di Kaki Gunung Ibu
Ada peristiwa yang hanya membutuhkan beberapa kalimat untuk diberitakan, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dilupakan. Erupsi Gunung Ibu di Kabupaten…